Ane punya tetangga di kampung yang bernama Mbah Gambreng. Gambreng adalah nama sejenis serangga. Tak jelas mengapa dinamai seperti itu. Tapi dia bukanlah satu-satunya warga kampung Ane yang dinamai dengan nama binatang. Mbah Gambreng adalah type wanita pejuang yang gigih. Masa mudanya dihabiskan jualan di pasar, dimana kulakan barangnya sampai ke tlatah Jorongan sono. Jorongan adalah daerah yang jaraknya sekitar 20 km dari kampung Ane. Jarak sejauh itu ditempuh hanya dengan jalan kaki oleh mbah Gambreng.
Makanya sejak dini hari uthuk-uthuk (baca : jalan kaki) yakni sekitar jam 2 pagi, mbah Gambreng sudah meluncur dari rumah. Kulakan ke Jorongan, lalu dijual di Pasar, siangnya pulang ke rumah. Begitu seterusnya.
Ane pernah menjumpai satu komunitas penjual daun pisang di daerah Wonogiri –sebagaimana Mbah Gambreng- menempuh perjalanan menyebrangi gunung untuk menjual daun pisang ke desa sebelah. Mereka berangkat pagi-pagi buta, lalu pulang siang hari dengan keuntungan yang tangeh lamun bisa buat beli BMW. Bisa beli BMX saja sudah mukjizat buat mereka.
Tapi herannya, orang-orang type mbah Gambreng ini justru kuat-kuat. Gak gampang kena penyakit macem-macem. Paling pol masuk angin. Obatnya cuma satu : Kerokan gulu (leher) sesekali glegheken ( baca : bersendawa) dengan sesekali diselingi kenthut mbrebet. Sambilan mereka biasanya memelihara ayam tanpa kandang. Maka dibiarkan saja ayam-ayamnya berkeliaran cari makanan. Setelah sekian bulan atau tahun dijuallah ayam itu atau disembelih buat lebaran.
Dulu Aji temen ane pernah diglembuki sama konco-konconya masa kecil. Sebagaimana biasa anak-anak waktu itu, punya koreng (baca : panu)adalah satu kewajiban. Hanya jumlahnya saja yang membedakan antara strata kaya dan miskin. Ada salah seorang konco Ane yang namanya Bandi, dijuluki Bandi Robot. Tentu saja karena kakinya penuh koreng laksana sekrup yang nempel di badan robot. Nah waktu itu beredarlah resep obat koreng yang entah darimana asalnya, diyakini sangat manjur. Aji dan si Bandi Robot dijadikan sasaran korban. Resepnya adalah, pada koreng itu diletakkan beberapa butir nasi, lalu pasien disuruh tidur di pelataran yang biasa banyak berkeliaran ayam lewat. Jikalau si ayam berhasil notholi butir-butir nasi itu, maka dijamin korengnya sembuh. Pesan Ane : Don’t try this at home! Cause dijamin moncroth… 

Jaman berubah. Perjalanan dengan jalan kaki ala mbah Gambreng sudah jarang yang melakukan. Kendaraan super cepat banyak beroperasi dijalan-jalan. Bahkan yang melebihi kecepatan suara juga ada. Perjalanan sebulan bisa ditempuh beberapa jam. Orang makin mengutamakan kecepatan. Berlomba dengan waktu adalah misi utama di semua bidang kehidupan.
Memelihara atau beternak ayam tak perlu berbulan-bulan. Dengan sedikit rekayasa, ayam bisa dipanen 30 hari. Makan di rumah makan juga gak mau lama-lama, maka diciptakanlah fast food aka cepat saji. Kirim surat yang dulu perlu seminggu buat mengirimkan pesan, sekarang cukup dengan bermain-main keypad dengan jempol dan seketika terkirim. Koneksi internet yang dulu lelet, sekarang cuma sepeminum teh. Kandungan GPL makin tinggi kadarnya. Hal-hal yang PL, pasti akan ditinggalkan.
Tapi tentu saja semua itu ada bayarannya. Umur manusia jadi pendek. Miturut kitabullah, umur orang-orang jaman dahulu sangat panjang, bisa nyampai seribu tahun. Orang-orang segenerasi mbah Gambreng, rata-rata masih bisa menjangkau umur 80 sampai 90-an tanpa ada penyakit yang ngrepoti. Bandingkan dengan generasi sampeyan semua, dimana umur 30 tahun sudah sambat kena asam urat dan kolesterol. Umur 40 sudah lempoh separo kena struk (baca : stroke). Menopause wanita jadi cepet karena makan ayam potong dan konsumsi logam berat, yang dulunya 53 tahun baru menopause, sekarang tercatat usia 42 tahun sudah menopause. Kecepatan ritme hidup manusia, menuntut pendeknya umur manusia.
Bandingkan dengan orang kampung wal ndeso yang menempuh ritme hidup nglaras wal nyantai. Nglaras dan nyantai bukan dalam konotasi malas kerja, tapi dalam hal ritme hidup. Bangun pagi tidak kemrungsung (baca : bingung) karena takut kena macet, tidak berkejar-kejaran dengan waktu, makan makanan kampung yang nyamleng (nikmat) dimana orang kota gak bakalan mau mbikin karena biasanya makanan kampung mbikinnya lama. Orang-orang dengan ritme hidup nglaras wal nyantai ini biasanya malah panjang umur. Umur apa saja. Ya umur rambutnya dimana gak gampang bothak, umur giginya dimana gak gampang ompong, umur tulangnya dimana gak gampang keropos dlsb.
Memang belum ada penelitian dalam hal ini. Dan sebenarnya bukan masalah kota atau desanya, tapi orangnya, bagaimana cara perilaku hidupnya. Ada orang kota yang menjalani hidupnya dengan ritme lambat wal nglaras. Tapi ada juga orang ndeso yang menjalani hidupnya dengan ritme cepat. Maka gak heran ada wong ndeso, tapi menderita penyakit orang kota. Namun yang terpenting, mau pendek atau panjang umur sampeyan, banyak-banyaklah mengumpulkan amal. Karena amal itulah satu-satunya hal yang kita kumpulkan di dunia, yang mau menemani kita di kubur. Harta, rumah, sertifikat, BPKB, kerabat, teman, rekan kerja dlsb, yang kita kumpulkan susah payah di dunia, gak bakalan ada yang mau menemani kita di kubur….
Saya dan sampeyan semua pasti pernah mengalami yang namanya menyesal. Rasanya gak enak. Bukan penyesalannya yang gak enak, namun rasa kecewa yang mendahului penyesalan itulah yang mbikin gak enak.
Tetangga Ane yang sudah mendahului ke alam barzah pernah mengupas perihal penyesalan ini berdasarkan durasinya. Dari durasi yang pendek sampai kepada yang panjang dan lama. Beliau menerangkan berulang-ulang perihal bab penyesalan ini di mimbar Kultum selepas sholat Isya. Sampai pendengarnya ngedumel…. “Halah, bola-bali iki wae. Nyetel kaset sampe nglokor (ketiduran)…”
Namun Ane tak pernah bosen tetap mendengarkan materi kultum yang itu-itu juga. Karena Ane mencoba mencari hal yang lain di balik isi kultum yang diulang-ulang macem House Music Extended Version. Di antaranya beliau menerangkan begini :
Penyesalan itu ada beberapa jenis. Dimulai dari durasi yang terpendek adalah sebagai berikut :
1. Penyesalan sehari.
Ini adalah penyesalan ibu-ibu yang salah bumbu dalam masak sayur. Maunya sayur asin malah jadi kasinen. Maunya sayur asem malah jadinya cuka. Maunya mbikin nasi goreng, jadinya malah intip goreng. Ya sudah, nyeselnya sehari itu. Kesalahannya cuma beberapa detik, tapi nyeselnya seharian.
2. Penyesalan seminggu.
Ini penyesalannya bang kumis yang salah model potongan kumisnya. Maunya nyompok macem Einstein, malah salah kedaden jadi kayak Saddam Husein. Maunya nglewer kayak Thompson bersaudara, malah nemplok kayak Hitler. Yah.. akhirnya nunggu seminggu nunggu sang kumis numbuh. Kesalahannya beberapa menit, nyeselnya mingguan.
3. Penyesalan Sebulan.
Ini penyesalannya orang yang salah cukur. Lha cukur kok petakilan, kegunting godegnya mbablas jadi peang… Yo wis.. Nyesel. Kalo mau ngreparasi model yang mbejaji, ya nunggu sebulanan, bahkan bisa lebih. Tergantung rambutnya ini model rambut jagung apa rambut api…
4. Penyesalan setengah umur.
Ini penyesalan orang yang salah milih isteri. Lha milih isteri cuma dilihat dari penampakan dhohir thok. Gaya, maunya yang ireng (baca : hitam) manis. Setelah manisnya ilang tinggal irengnya thok…. nyesel. Pokoke salah niat cari isteri. Lupa kalo manusia itu bosenan. Lha nyari isteri kriterianya gak permanen. Akhirnya setelah bosen, hidupnya penuh penyesalan. Ujung-ujungnya nyari lagi. Yang perempuan nyari brondong, yang laki nyari bronjong.
5. Penyesalan tiada batas.
Ini penyesalan karena salah milih agama. Semua agama mengajarkan bahwa ajarannya baik, dan orang yang diluar agama itu akan celaka hidupnya. Apakah akhirnya semuanya nanti selamat?? Ini pertanyaan yang baru akan terjawab entar di akherat. Yang jelas nanti akan ada yang salah pilih agama yang akan menyesal tiada batas. Biar gak menyesal gimana?
Allah Maha Adil. Kebenaran itu bisa ditelusur. Panca indera, hati dan akal pemberian-Nya ini bisa mendeteksi kebenaran itu. Jadi kalo sampe gak nemu kebenaran, maka jelas panca indera, hati dan akal kita akan dituntut. Karena mesti ada salah satu atau lebih yang berkhianat dan menipu dirinya sendiri sehingga kita tidak menemukan kebenaran itu. Atau sudah nemu tapi ketutupan (tertutup). Ada yang ketutupan gengsi, ada yang ketutupan harga diri (yang palsu), ada yang ketutupan duit, ada yang ketutupan pengikut, ada yang ketutupan dalan bayi, dan lain sebagainya.
Maka gunakanlah segala piranti pemberian Allah ini untuk mencari yang benar itu, karena PASTI BISA. Dan untuk penyesalan yang terakhir ini tak bisa diperbaiki sama sekali.
Ada kisah 3 orang yang terjebak di dalam satu goa yang gelap, saking gelapnya hanya bisa grayak-grayak. Lalu ada suara yang memberitahu mereka bertiga, “Ambillah sebanyak-banyaknya batu di goa ini. Karena barangsiapa yang tidak mengambinya akan menyesal. Dan barangsiapa yang mengambilnya juga akan menyesal.”
Maka orang pertama berpikiran, “Ambil sajalah. Ha wong perintahnya disuruh ngambil sebanyak-banyaknya.” Maka dia ambil yang banyak.
Orang kedua bingung, ngambil nyesel, gak ngambil juga nyesel. Maka dia ambil sedikit..
Orang ketiga masa bodo. Ha wong ngambil dan gak ngambil sama-sama nyeselnya, ngapain harus ngambil. Dia gak peduli akan isi perintah untuk mengambil sebanyak-banyaknya.
Maka tiba-tiba mereka bertiga menemukan pintu goa itu. Segera mereka keluar. Setibanya di luar pintu goa runtuh, dan menutup jalan masuknya. Lantas mereka bertiga mencoba melihat apa yang sebenarnya mereka ambil itu. Ternyata emas.
Yang ngambil banyak nyesel, kok gak lebih banyak lagi ngambilnya. Yang ngambil dikit nyeselnya malah lebih luar biasa. Yang gak ngambil langsung turun berok. Ini semua ibarat. Goa itu adalah masa hidup kita. Emas itu adalah amal sholehnya. Yang amal sholeh saja masih nyesel, apalagi yang membiarkan hidupnya lewat tak berguna.













