
Apakah alat prediksi kejadian penyakit pembuluh darah berbeda antara pria dan wanita?
Dalam ilmu kedokteran, selama sekian lama, pria dan wanita dikelompokkan dalam algoritma "one size fits all" atau, yang lebih parah, wanita dianggap kurang mempunyai resiko dibanding pria. Sebagai contoh, variabel yang digunakan untuk menilai faktor resiko kejadian penyakit kardiovaskular pada wanita tetap sama selama 40 tahun. Saat ini, setiap cabang ilmu yang mempelajari aspek penyakit jantung baik etiologi, pencegahan, dan pengobatan berubah secara dramatis. Terutama setelah penelitian faktor risiko lipid (lipid risk faktor) dan ditemukannya penanda inflamasi seperti C-reactive protein, nilai prediksi resiko kejadian penyakit kardiovaskular pada wanita nampaknya akan pengalami perubahan.
PENANDA (MARKER) RESIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR PADA WANITA
Reynolds Risk Score, yang diverifikasi secara khusus pada wanita, telah divalidasi sebagai metode prediksi resiko penyakit kardiovaskular. Tiga puluh lima faktor resiko potensial diteliti pada 24.558 wanita sehat yang dimonitor selama 10 tahun untuk diketahui apakah mereka akan mendapat penyakit kardiovaskular yaitu serangan jantung, stroke, angioplasty (balloon surgery to open an artery), bedah bypass arteri koroner, atau kematian yang dikaitkan dengan penyakit jantung. Hasil dari algoritma yang telah divalidasi tersebut adalah 50% pasien dalam kelompok cohort ini diklasifikasikan memiliki kategori resiko tinggi atau masuk kategori resiko rendah. Skoring tersebut juga menilai kadar high-sensitivity C-reactive protein (hs-CRP), diantara penanda lainnya seperti nilai total kolesterol, HDL, tekanan darah sistolik, status perokok dan riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Kalkulasi algoritma tersebut dapat diakses di www.reynoldsriskscore.org.
Peningkatan hs-CRP juga mempunyai korelasi dengan progresi yang lebih dini penyakit pembuluh darah karotis pada wanita—tapi tidak pada pria. Pentingnya penanda inflamasi pada wanita lebih diperhatikan sekarang ini. Wanita yang berusia empat puluh tahunan "yang awalnya sehat" yang memiliki kadar hs-CRP “sangat tinggi” diikuti perkembangannya selama 10 tahun. Wanita dengan kadar hs-CRP tinggi mempunyai kecenderungan tekanan darah tinggi, indeks massa tubuh yang lebih besar, kadar high-density lipoprotein (HDL) cholesterol lebih rendah, and kadar triglyceride lebih tinggi dibanding wanita dengan kadar hs-CRP yang lebih rendah. Sebagai tambahan, wanita dengan kadar hs-CRP yang tinggi mendapatkan infark miokard (MIs) lebih awal dan lebih fatal daripada wanita dengan kadar hs-CRP yang lebih rendah. Penelitian lain juga mengkaitkan hs-CRP dengan stroke iskemik pada wanita.
Sebagai kesimpulan, pada wanita, progresi penyakit pembuluh darah karotis, kecenderungan infak miokard yang lebih awal dan fatal, dan resiko stroke iskemik semuanya berkaitan dengan kadar hs-CRP.
IMPLIKASI KE DEPAN
Pada saat sekarang, strategi pencegahan dan pengobatan pada wanita, sebagian besar, masih sama dengan pria. Namun dengan data hasil penelitian ini, dimasa mendatang penatalaksanaan penyakit pembuluh darah akan lebih spesifik dibedakan antara pria dan wanita.














