Penembakan oleh Nidal malik Hasan berdampak menimbulkan ketakutan tentara muslim AS
Sebagaimana diberitakan Mayor Nidal Malik Hasan (39), Kamis (5/11) sekitar pukul 14.30 waktu setempat, mengamuk dengan menembakkan dua senjata api di dalam kompleks Markas Angkatan Darat Fort Hood, Texas Amerika Serikat. Akibatnya, 12 prajurit AD tewas di tempat dan 31 prajurit menderita luka-luka.
Major Nidal Malik Hasan tentara yang diduga sebagai pelaku penembakan dan membunuh sesama tentara di Texas adalah seorang muslim kelahiran Amerika. Alasan penembakan tersebut tidak jelas, tetapi diduga disebabkan sakit hati Mayor Malik Hasan terhadap pelecehan rasial dan agama yang dilakukan terhadapnya. Kasus penembakan itu dapat mempengaruhi ribuan Muslim di militer AS.
Mayor Nidal Malik Hasan adalah seorang prajurit karier dengan sekitar 20 tahun pengalaman, yang telah dilatih sebagai seorang psikiater yang memberi terapi psikologis kepada pasukan yang kembali dari pertempuran.
Dia, Mayor Nidal Malik Hasan adalah seorang Muslim yang taat, rajin melakukan shalat di masjid. Kerabatnya mengatakan dia menjadi kecewa dengan operasi militer AS di Irak dan Afghanistan, dan sangat menentang jika dirinya diberangkatkan ke Afghanistan. Dia juga telah lama ingin meninggalkan pasukan setelah mengalami pelecehan karena agama, kata mereka.
Apa pun motivasi, tragedi di pangkalan militer Fort Hood merupakan masalah kepekaan tentara Muslim AS yang bertugas di angkatan bersenjata Amerika Serikat.
Kamran Memon dari organisasi Muslims For a Safe America mengatakan terdapat perbadaan pendapat di tengah komunitas Muslim Amerika.
"Di satu sisi orang-orang berkata bahwa kita berlepas tangan dengan apa yang dilakukan oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat ketika mereka terlibat dalam perang dengan sesama saudara muslim kami di luar negeri," katanya kepada BBC.
"Di sisi lain mengatakan, kita harus benar-benar berjuang dan membantu mempertahankan negara kita melawan mereka yang ingin menyerang.
"Tidak ada jawaban yang mudah atas kasus ini. Kami mencoba untuk mendorong umat Muslim Amerika untuk belajar tentang isu-isu ini dan menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk mencapai kesimpulan informasi sehingga kita bisa menjadi peserta aktif dan layak diperhitungkan dalam debat mengenai isu-isu keamanan nasional."
Mr Memon mengatakan mayoritas warga Muslim di Amerika adalah "dapat hidup damai hidup", meskipun mereka mungkin telah menderita diskriminasi sejak serangan 11 September 2001. Ia percaya bahwa hal ini juga berlaku bagi orang Muslim yang bertugas di angkatan bersenjata Amerika Serikat.
Namun, ada beberapa insiden dalam beberapa tahun terakhir yang telah memicu ketegangan.
Di sebuah kamp di Kuwait, ketika unitnya bersiap-siap untuk pindah ke Irak pada Maret 2003, Sersan Hasan Akbar melemparkan granat tangan dan melepaskan tembakan di sebuah tenda yang penuh dengan tentara yang terlelap tidur pada awal subuh. Dia membunuh dua perwira dan mencederai 14 personel lain.
Keluarganya mengatakan ia, Sersan Hasan Akbar telah menderita akibat pelecehan agama dan pelecehan rasial dari tentara lain, meskipun demikian tidak ada saksi yang membenarkan pernyataan tersebut di pengadilan. Penuntut menggambarkan dirinya sebagai "penuh kebencian, didorong oleh ideologi sebagi pembunuh".
Juga pada tahun 2003, seorang ulama muslim di Guantanamo Bay, Kapten James Yee, dituduh melakukan aksi spionase dan dikurun selama 76 hari sebelum semua tuduhan itu dibatalkan. Namanya direhabilitasi setahun kemudian, tetapi tidak ada permintaan maaf dari militer. Kasus ini memancing kemarahan Muslim Amerika yang merasa Kapten James Yee telah dilecehkan karena agamanya.
Fakta Menyedihkan
Tidak jelas persis berapa banyak umat Islam yang bertugas di 1,4 juta anggota angkatan bersenjata Amerika Serikat, saat direkrut mereka tidak diharuskan untuk mencantumkan agama mereka dalam formulir pendaftaran.
Menurut Pentagon, terdapat 3.572 tentara Muslim aktif. Namun, beberapa muslim di militer mengatakan jumlah mereka lebih dari 20.000 anggota.
Pemerintah AS tidak menyembunyikan kenyataan bahwa AS ingin melihat lebih banyak orang dari Arab dan masyarakat Muslim bergabung dengan angkatan bersenjata.
Pasukan Muslim Amerika yang terlibat perang di tanah Irak dan Afghanistan telah lama berperan penting dalam membantu misi AS untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat di negara-negara tersebut.
"Mereka adalah aset besar bagi tentara," Letkol Nathan Bank, jurubicara militer untuk Pentagon, mengatakan kepada BBC.
"Mereka banyak membantu memfasilitasi misi kami. Tentara Muslim Amerika bekerja bergandengan tangan dengan umat Islam setempat, dan kami menyambut itu."
Dia mengatakan tentara tidak ada ketegangan di dalam jajaran angkatan bersenjata sebagai akibat dari insiden di Fort Hood.
"Ini merupakan insiden kecil. Tentara akan tetap kuat. Kami memiliki beragam pasukan bersenjata, dan apa pun agamanya, mereka memiliki bagian penting, dan mereka telah melakukan tugas mereka dengan sangat baik. " tambahnya.
Tetapi sentimen anti-Islam sangat dirasakan oleh kaum Muslim amerika sebagai akibat dari penembakan oleh Major Nidal Malik Hasan di Fort Hood. Arab-American Institute yang mengutuk penembakan tersebut mengatakan telah menerima setidaknya satu panggilan telepon ancaman, dan mungkin akan lebih banyak lagi.
Salah seorang tentara di pangkalan Texas mengakui beberapa hari mendatang akan menjadi masa sulit bagi rekan-rekan muslim. "Mereka akan merasakan dampak negatif dari tindakan tersebut pada mereka dan membuat orang tidak lagi mempercayai mereka, Karena semua orang akan mengawasi mereka [dan berpikir]:" Yah, kau mungkin akan menarik pelatuk senjata seperti ini. Dan itu fakta yang menyedihkan jika benar terjadi". katanya kepada BBC
Artikel Lainnya:
Profil Mayor Nidal Malik Hasan
Keyword:
Profil Biodata Mayor Nidal Malik Hasan, kasus penembakan, Kasus Pelecehan Agama, Psikolog, tragedi Markas angkatan Darat Fort Hood Texas Amerika Serikat















